Langsung ke konten utama

DIGITALISASI MEDIA SOSIAL DALAM PERUBAHAN MASYARAKAT DAN SOSIAL BUDAYA DI DESA GAMONGAN KECAMATAN TAMBAKREJO KABUPATEN BOJONEGORO DI ERA PANDEMI COVID-19


Nama : Ina Yatun Khoiriyah
NIM    : 220521100124 
Kelas  : Sosiologi 1D 

Dalam memenuhi tugas essay ke 2 SSBI 
{ Sistem Sosial Budaya Indonesia } dengan tema perubahan sosial budaya masyarakat daerah asal mahasiswa


DIGITALISASI MEDIA SOSIAL DALAM PERUBAHAN MASYARAKAT DAN SOSIAL BUDAYA DI DESA GAMONGAN KECAMATAN TAMBAKREJO KABUPATEN BOJONEGORO DI ERA PANDEMI COVID-19  




Media sosial atau yang kerap di sebut sosial media saat ini tengah gencar- gencarnya merambat ke seluruh dunia, digitalisasi media sosial di era pandemi covid 19 sangat berkembang pesat, di mana hampir semua manusia menggunakan media sosial dalam aktivitas kehidupan nya sehari-hari, tak hanya masyarakat kota namun juga sampai ke masyarakat desa salah satunya yaitu di Desa Gamongan Kecamatan Tambakrejo Kabupaten Bojonegoro. Masyarakat desa yang pada awalnya sangat awam terhadap HP, laptop, media sosial dan lain sebagainya menjadi aktif bahkan sampai tergiur media sosial, hal ini tentu terjadi perubahan sosial dan budaya yang ada di masyarakat. apalagi pada saat pandemi covid 19 di mana semua serba online sekolah online, belanja online, bahkan ketemu orang pun terkadang banyak yang online mengakibatkan semua masyarakat di desa yang pada mulanya awam terhadap teknologi ataupun sosial media menjadi berbondong-bondong membeli HP dan mempelajari seluk beluk sosial media. banyak perubahan sosial budaya yang terjadi akibat digitalisasi media sosial di era pandemi covid 19 ini di mulai dari hal yang sederhana saja contohnya anak- anak yang dulunya saat bermain menggunakan permainan tradisional seperti kasti, gobak sodor, lompat tali dan lain - lain kini sudah jarang di mainkan lagi bahkan cenderung bermain HP, yang lebih parahnya mereka menggunakan HP sesuai hati mereka tanpa pengawasan orang tua , selain itu ibu- ibu yang biasanya sibuk mengurus suami dan anak jadi lebih sibuk mengurus sosial media, sibuk memposting berita sana sini, sibuk arisan online, belanja online dan berbagai kegiatan lainnya yang bersifat online. kondisi desa yang cukup memprihatinkan bahkan sekarang orang ke sawah pun membawa HP, hampir semua aktivitas yang di lakukan masyarakat desa tak bisa jauh dari HP . 
Sebagai Mahasiswa Sosiologi jika saya analisis perubahan sosial budaya yang terjadi ini membawa dampak positif sekaligus negatif bagi warga desa gamongan. adanya digitalisasi membuat warga semakin mudah dalam menjalankan aktivitasnya. 
contohnya mereka bisa membantu anak-anak mereka yang saat itu sekolah daring jadi mau tidak mau orang tua pun ikut serta harus bisa mendampingi anak mereka belajar lewat HP seperti absensi melalui google form, ulangan harian lewat link google form, bagaimana cara menggunakan aplikasi Classroom dan aplikasi lain yang di gunakan untuk menunjang anak-anak belajar. tak hanya itu namun juga bisa berkomunikasi dengan sanak saudara dengan mudah menggunakan HP milik pribadi tanpa harus meminjam orang lain, digitalisasi media sosial ini juga di manfaatkan warga desa untuk berjualan secara online di mana para pembeli cukup memesan lewat via WhatsApp nanti bisa COD langsung atau bahkan barang sudah bisa langsung di ambil di depan rumah, dan masih banyak lagi dampak positif yang bisa di rasakan oleh warga adanya digitalisasi media sosial ini, namun selain memberi dampak positif ini juga ada dampak negatif bagi warga masyarakat contohnya yaitu seperti di laksanakannya sekolah daring atau online membuat pembelajaran kurang maksimal di mana yang saya amati di lingkungan sekitar saya, mayoritas yang mengerjakan tugas anak-anak itu bukan mereka sendiri melainkan orang tua mereka kalau ada PR langsung di kasih ke ibu nya dan si ibu pun langsung cepat- cepat mengerjakan agar si anak mendapatkan nilai yang bagus namun anaknya tidak memperhatikan malah bermain dengan teman sebayanya, ini yang memprihatinkan dampak buruknya ketika pembelajaran luring atau offline di laksanakan si anak pasti tidak akan mengerti jika di tanya ibu guru padahal PR nya mengerjakan semua, nilainya bagus tapi mengapa ketika pembelajaran tatap muka langsung di tanya ia seperti kesulitan????? di sini yang harus di gali lebih jeli bahwasanya akibat pandemi dan merebaknya digitalisasi media sosial membuat orang tua mereka berbondong-bondong membeli HP dan mempelajari sosial media dan ketika anaknya ada PR bukan mereka yang mengerjakan malah orang tuanya, walaupun tak semuanya seperti itu namun mayoritas yang terjadi memang seperti itu, selain itu dampak negatif yang lainnya adalah maraknya forum gibah online dan pasang status alay , nah ini yang parah, para emak- emak kalau sudah gibah tiada habisnya apalagi gibahnya gibah online langsung bikin grup satu RT isinya forum gibah semua dan selain itu juga kalau lagi kesal sama tetangga, atau suami, mertua bukannya di ajak komunikasi dengan baik atau di cari penyelesaiannya dengan baik malahan di buat status alay di story WhatsApp yang mengakibatkan semua orang tau dan malah kepo terhadap urusan kita, ingat ga semua orang itu kasihan atau simpati pada kita malahan jika seperti itu banyak orang yang menertawakan kita atas masalah yang kita alami, 10% mungkin kasihan/ simpati tetapi 90% lainnya hanya ingin tau selebihnya pasti di gunjing di belakang. 
banyak hal negatif yang terjadi akibat digitalisasi media sosial ini namun banyak juga hal positif yang dapat di ambil tergantung se bijaksana apa kita menggunakan media sosial. 
Jika di analisis menurut tokoh Sosiolog Selo Soemardjan perubahan sosial adalah segala perubahan- perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan di dalam suatu masyarakat, yang mempengaruhi sistem sosialnya termasuk di dalamnya nilai-nilai , sikap-sikap dan pola- pola perilaku di antara kelompok- kelompok masyarakat . 
Artinya perubahan sosial adalah segala aspek bentuk perubahan di lembaga masyarakat yang pasti mempengaruhi sistem sosial, nilai dan norma, adat istiadat dan lain-lain seperti contohnya dengan judul yang yang saya angkat digitalisasi media sosial dalam perubahan masyarakat dan sosial budaya di desa gamongan kecamatan Tambakrejo kabupaten Bojonegoro di era pandemi covid 19 , perubahan yang terjadi sangat mempengaruhi sistem sosial di desa saya, dari yang manual menjadi digital, dari yang gaptek menjadi sangat ahli teknologi , selain mempengaruhi sistem sosial yaitu mempengaruhi nilai dan norma yang ada di masyarakat contoh nyata nya adalah etika atau attitude seseorang terkadang tak lagi di temukan, sederhana saja contohnya ketika lewat di depan banyak orang kita lupa untuk mengucapkan permisi, lupa untuk mengucapkan maaf dan terimakasih. berawal dari hal sepele itu , perubahan sosial juga mempengaruhi adat istiadat di masyarakat desa gamongan contohnya ketika acara banca'an nah isinya itu yang wajib tahu, tempe, mie, telur, rempeyek, dan kacang panjang tapi ketika zaman modern dan serba praktis ini masyarakat mengganti tradisi tersebut dengan ketika bancaan mengganti dengan berbagai macam makanan ada yang nasi sama bakso, nasi sama mie ayam, nasi sama geprek dan lain sebagainya, ini menandakan bahwa perubahan sosial itu terus berkembang di masyarakat dan akan terus berkembang dan mengalami perubahan seiring berkembangnya zaman. 



Komentar