Langsung ke konten utama

Artikel

 Otok-Otok Dalam Riset Budaya Bangkalan


Otok-Otok merupakan tradisi arisan yang ada di madura salah satunya di Desa Pocong, Kabupaten Bangkalan. tradisi arisan ini di lakukan oleh masyarakat untuk mempererat tali persaudaraan dan silaturahmi antar sesama warga. konsep tradisi otok-otok ini di lakukan dengan memberikan sejumlah uang kepada pihak yang mengundang sesuai dengan ketentuan yang telah di sepakati bersama teman-teman yang lain. setiap acara atau tradisi otok-otok terdapat tokoh yang berperan sebagai ketua atau koordinator otok-otok, dan siapapun bisa menjadi anggota otok-otok dengan daftar dan menyepakati aturan-aturan yang telah di buat dan mau bertanggungjawab dengan selalu hadir pada setiap pertemuan otok-otok. kemudian, transaksi otok-otok ini di lakukan dengan mengumpulkan uang dari seluruh anggota yang tergabung dalam otok-otok, setelah uang terkumpul maka akan ada sesi pengundian sama seperti hal nya arisan ada nama- nama yang sudah di tulis lalu di masukkan ke dalam botol lalu di undi oleh ketua atau koordinator otok-otok kemudian keluar lah satu kertas berisi nama seseorang dari botol tersebut, langsung di buka kertasnya untuk mengetahui si pemenang dari acara otok-otok tersebut, nah uang yang terkumpul tadi maka akan di serahkan kepada pemenang yang di undi tersebut. kegiatan ini akan di lakukan secara berulang kali sampai kertas yang terkumpul tadi habis di undi dan masing-masing anggota telah mendapatkan uang nya dalam jangka waktu yang berbeda-beda. Kegiatan acara otok-otok ini sangat bermanfaat bagi warga sekitar selain menjalin hubungan erat dan tetap menjaga silaturahmi saat acara otok-otok atau arisan ini berlangsung para anggota bisa secara langsung bertukar informasi sharing-sharing tentang masalah yang di hadapi, bertukar cerita saling memberikan saran dan solusi , berbagi pengalaman dan lain sebagainya yang membuat mereka semakin akrab dan seperti saudara sendiri. namun di lain sisi acara otok-otok ini juga mempunyai kekurangan yakni beberapa individu menjadikan arisan sebagai ajang pamer atas suatu kelebihan yang mereka miliki, misalnya saat menghadiri acara otok-otok atau arisan para ibu-ibu yang sudah menang arisan langsung beli perhiasan untuk mencuri perhatian ibu-ibu yang lainnya, tak hanya perhiasan, biasanya mereka juga menggunakan barang-barang branded seperti tas, baju, sepatu dan lain-lain yang membuat para ibu-ibu arisan lainnya jengkel karena mereka pamer barang- barang baru selain itu sisi kekurangan yang lain yaitu ada juga salah satu individu yang sudah mendapatkan giliran menang namun pada pertemuan berikutnya malah tidak hadir dan tidak membayar uang arisan tersebut dengan berbagai alasan seperti belum ada uang, akan membayar langsung kepada si pemenang baru dan berbagai macam alasan lainnya kemudian kabur entah hilang kemana. jadi ada baiknya jika mengadakan acara otok-otok atau arisan ini perlu memiliki jaringan pertemanan yang erat dan dapat di percaya serta berkomitmen tinggi untuk menyelesaikan otok-otok atau arisan ini hingga selesai . karena jika tidak, maka anggota otok-otok yang lain yang kena imbasnya apabila salah satu dari anggota telat membayar atau bahkan hilang tiada kabar. meski demikian tradisi otok-otok ini tetap di lestarikan oleh masyarakat madura khususnya di daerah Pocong, Kabupaten Bangkalan. ini merupakan tradisi etnis yang turun temurun dari zaman dahulu hingga sekarang. karena melalui tradisi ini masyarakat dapat membangun solidaritas sosial, mengembangkan kerjasama bisnis, serta mampu menjalin integrasi sosial antar warga satu dengan warga lainnya yang ada di Kabupaten Bangkalan, Madura. adapun proses tradisi otok-otok ini terbagi menjadi 4 tahap yaitu : a.)pembukaan berupa berdo’a bersama, (b) acara inti seperti mengundi siapa yang akan memenangkan, (c) hiburan berupa menampilkan ciri khas Madura salah satunya tari ronggeng, (d) penutup yang dipimpin oleh ketua. biasanya kegiatan ini dilakukan secara bergilir atau bergantian antar anggota dalam kurun waktu yang ditentukan. hal itu tergantung kepada waktu dan kesempatan yang ada. biasanya otok – otok ini dilaksanakan pada bulan – bulan baik pada bulan madura dengan patokan bulan qomariyah. otok – otok atau disebut arisan biasanya ada seorang ketua yang mengatur tentang konsistensi daripada seluruh anggotanya terutama mengenai administrasi tentang keuangan. Ketua juga berwenang untuk menegur dan menagih terhadap anggotanya bilamana ada kepincangan atau tidak hadir dalam catatan keuangan yang tidak sesuai dengan jumlah pengembalian. kegiatan acara otok-otok ini biasanya di lakukan pada siang hari hingga sore hari. dalam kegiatan otok-otok ini ada beberapa acara yang di tampilkan salah satunya adalah kesenian khas madura yaitu berupa tarian kemudian di iringi dengan musik baik berupa musik lokal maupun musik non lokal seperti lagu bollywood . tradisi otok-otok telah menjadi kegiatan yang urgent dalam kehidupan masyarakat di desa Pocong Kabupaten Bangkalan, Madura. hal itu tampak, karena tradisi ini mulai dulu sampai sekarang tetap mereka jaga, dipertahankan, dan yang paling penting ialah tetap dilestarikan. Terealisasinya sebuah tradisi otok-otok memang tidak lepas dari banyaknya kepentingan-kepentingan daripada masyarakat di Desa Pocong Kabupaten Bangkalan Madura, baik secara sosial, ekonomi, maupun budaya. Sehingga hal ini pula yang menjadikan manusia di desa Pocong, Kabupaten Bangkalan Madura menjadi sosok yang dikenal masyarakat luas dengan sebutan masyarakat yang tinggi akan jiwa social dan kebudayaannya. antusiasme masyarakat etnis Madura terhadap tradisi otok-otok sangatlah tinggi, itu sebabnya tradisi otok-otok masih direalisasikan dalam kehidupan mereka. otok-otok ini juga berfungsi sebagai :  

1. Sebagai Perekat Solidaritas Antar Masyarakat Etnis Madura khususnya di Desa Pocong Kabupaten Bangkalan. 

2. Sebagai Tindakan Ekonomi Masyarakat 

a. Jangka Pendek 

b. Jangka Panjang 

3. Sebagai Media Sosial 

4. Dapat Memperluas Jaringan

6. Perkumpulan Masyarakat 

7. Identitas Budaya 

8. Pelestarian Sebagai Suatu Penghormatan pada Leluhur 

9. Bur Leburen (hiburan) 

secara rasional, taraf ketahuan masyarakat etnis Madura terhadap tradisi otok-otok, mayoritas dari mereka tidak perlu diragukan lagi. namun, meski keadaannya demikian, beberapa tahun atau beberapa dekade kedepan ditakutkan tradisi ini akan memudar dan itu akan menjadi sebuah ancaman pada eksistensi budaya masyarakat madura. sehingga penting kiranya untuk memberikan suatu kesadaran yang berkelanjutan dan yang tidak kenal putus asa pada masyarakat supaya hal itu tidak terjadi. tentu tidak hanya sekedar mengetahui dan mengakui budayanya. tetapi lebih daripada itu, penting sekali untuk bisa diajak kerjasama dalam menjalankan tradisi otok-otok yang merupakan suatu bagian budaya daripada kebudayaan mereka. maka, agar hal itu dapat terwujud, agar tradisi tetap terjaga dan terawat dengan sebaik-baiknya yaitu dengan memberikan kesadaran tentang tradisi otok-otok bahwa tradisi otok-otok penting dan sentral perannya dalam kehidupan daripada masyarakat etnis madura. khususnya pada masyarakat Madura di Desa Pocong Kabupaten Bangkalan. 






Komentar

Postingan populer dari blog ini

DIGITALISASI MEDIA SOSIAL DALAM PERUBAHAN MASYARAKAT DAN SOSIAL BUDAYA DI DESA GAMONGAN KECAMATAN TAMBAKREJO KABUPATEN BOJONEGORO DI ERA PANDEMI COVID-19

Nama : Ina Yatun Khoiriyah NIM    : 220521100124  Kelas  : Sosiologi 1D  Dalam memenuhi tugas essay ke 2 SSBI  { Sistem Sosial Budaya Indonesia } dengan tema perubahan sosial budaya masyarakat daerah asal mahasiswa .  DIGITALISASI MEDIA SOSIAL DALAM PERUBAHAN MASYARAKAT DAN SOSIAL BUDAYA DI DESA GAMONGAN KECAMATAN TAMBAKREJO KABUPATEN BOJONEGORO DI ERA PANDEMI COVID-19   Media sosial atau yang kerap di sebut sosial media saat ini tengah gencar- gencarnya merambat ke seluruh dunia, digitalisasi media sosial di era pandemi covid 19 sangat berkembang pesat, di mana hampir semua manusia menggunakan media sosial dalam aktivitas kehidupan nya sehari-hari, tak hanya masyarakat kota namun juga sampai ke masyarakat desa salah satunya yaitu di Desa Gamongan Kecamatan Tambakrejo Kabupaten Bojonegoro. Masyarakat desa yang pada awalnya sangat awam terhadap HP, laptop, media sosial dan lain sebagainya menjadi aktif bahkan sampai tergiur media sosial, hal i...